Cerita Gemas Para Ibu saat WFH Bersama Anak

0 16


Jakarta, CNN Indonesia — Belum lama memegang laptop untuk bekerja dari rumah alias work from home (WFH), si kecil datang merebutnya untuk menyaksikan film kartun favoritnya. Ini merupakan satu dari banyak godaan bagi para ibu pekerja yang bekerja dari rumah saat pandemi virus corona.

Bekerja dari rumah bersama anak yang masih kecil menjadi tantangan tersendiri bagi para ibu pekerja. Ibarat kata, para ibu diminta untuk memilih antara fokus bekerja atau mengurus anak.

Setiap ibu punya cerita dan cara tersendiri untuk mengatasi tingkah laku anak saat bekerja dari rumah. CNNIndonesia.com merangkum kisah empat ibu hebat saat bekerja dari rumah bersama anak.





1. Anak ikut conference call
Kedua anak Fera selalu mengikuti aktivitas yang dilakukannya di rumah, termasuk saat bekerja. Anak-anak seolah tak bisa jauh dari Fera saat berada di rumah.

Saat mencari tempat yang tenang untuk bisa bekerja, anak-anak Fera justru menangis karena takut sang ibu pergi. Sering kali pula, anak Fera terpaksa ikut conference call atau rapat daring (online) karena sang anak tak mau berada jauh dari laptop dan sisi ibunya.

“Mereka jadi ngintil. Mau naik ke kamar aja biar bisa fokus kerja malah dinangisin. ‘Kenapa mama harus kerja di atas. Aku sama siapa?’ Conference call dia ikutan. Laptop dibajak mulu,” kata Fera sambil tertawa saat bercerita dengan CNNIndonesia.com.

Untungnya, pekerjaan Fera juga bisa dilakukan dari ponsel pintarnya. Sehingga, saat si kecil tertarik dengan laptop, Fera beralih menggunakan ponsel pintarnya.

Anak-anak Fera yang masih dalam masa pertumbuhan dan rasa ingin tahu yang tinggi juga kerap bertanya-tanya tentang pekerjaan yang dilakukan ibunya.

“Satu yang bikin kesal, ‘Mama, mama, mama udah ya kerjanya? Udah belum kerjanya? Kok mama lama ya kerjanya? Aku mau kerja juga. Padahal baru megang laptop belum sampai 10 menit,” ungkap Fera.

Pernah pula suatu hari Fera ketiduran saat menidurkan anaknya ketika jam kerja. “Yang agak parah gue ketiduran pas nidurin bocil [anak]. Di WA [WhatsApp] dan telepon teman, enggak dijawab. Untung teman, bukan bos atau klien,” ucap Fera.

2. Teriak kebosanan setiap lima menit
Hampir setiap lima menit, sang anak berteriak kebosanan karena sudah seminggu tidak sekolah dan keluar rumah demi mencegah penyebaran virus corona.

Boriiing,” kata Ikoy menirukan gaya bicara anak pertamanya yang berumur tujuh tahun kepada CNNIndonesia.com.

Sudah sepekan, Ikoy dan dua anaknya menjalani rutinitas dari rumah, mulai dari bangun, sarapan, mandi, family gathering, olahraga, berjemur, dan mengerjakan pekerjaan masing-masing.

Saat Ikoy dan suami bekerja, anak pertamanya ikut mengerjakan tugas sekolah, sedangkan anak kedua yang berumur tiga tahun bermain tak jauh dari mereka.

Sering kali, saat bekerja Ikoy juga mesti membantu dan mengajarkan anaknya jika ada tugas sekolah yang tidak dipahami.

“Enggak lancar tentu saja, karena sepertinya mereka lebih suka diajari guru di sekolah,” ujar Ikoy.

Ikoy mengaku, bekerja bersama dua anak membuat fokusnya terbagi. Tingkah laku anak-anak juga kerap membayangi Ikoy saat bekerja.

“Dalam berapa hari, saya sudah hapal jargon anak saya ketika mengerjakan tugas; ‘Aduh, capek banget’ atau ‘Kapan snack time?” dan “Play time masih lama?'” tutur Ikoy.

Walau anak-anak kerap merecoki pekerjaan, Ikoy menganggap waktu-waktu di rumah saat ini merupakan hal yang mewah dan berharga karena sulit didapat ketika bekerja dari kantor.

Ikoy dan keluarga juga membangun keakraban dengan melakukan aktivitas yang kreatif seperti bermain catur, monopoli, karambol, ular tangga, dan berkebun.

3. Bayi yang ingin dimanja
Anak Iffah masih berusia enam bulan, tapi dia seolah sudah paham ibunya sedang bekerja dari rumah. Sering kali sang bayi menangis seolah ingin dimanja saat Iffah sedang bekerja.

“Iya, bayinya enggak mau tidur. Jadi, dia suka ngajak main, kalau main sendiri pasti nangis. Ngajak main terus dan maunya sama aku. Pokoknya lagi manja,” kata Iffah kepada CNNIndonesia.com.

Di minggu pertama WFH, Iffah mengaku masih menyesuaikan diri bekerja dari rumah dan juga mengurus buah hati. Iffah mesti pandai-pandai membagi waktu untuk memandikan, memberi makan, dan menidurkan anak.

Pernah suatu waktu, sang anak sulit ditenangkan. Alhasil, Iffah terpaksa meninggalkan pekerjaannya untuk menggendong dan menyusui anaknya. Dia baru menyelesaikan pekerjaan di malam hari.

“Sampai akhirnya seharian enggak kepegang kerjaan. Pas jam delapan malam baru bisa buka laptop,” ujar Iffah.

Agar tak kewalahan, Iffah juga berbagi tugas dengan sang suami yang juga bekerja dari rumah untuk menemani anak mereka.

4. WFH dari Amerika
Sekar bersama anaknya sedang liburan di Amerika Serikat sebelum wabah virus corona merebak. Kini, dia masih tertahan di Negeri Paman Sam lantaran tak ada penerbangan kembali ke Indonesia.

Alhasil, dia mesti bekerja dari AS. Bekerja dari AS punya tantangan tersendiri. Selain anak yang belum genap berusia dua tahun, Sekar juga mesti bekerja dengan perbedaan waktu 11 jam. Saat jam kerja di Indonesia, waktu AS sudah menunjukkan malam hari.

“Beda lokasi yang berat, ya, beda jamnya. Apalagi bedanya 11 jam, yang lain tidur di rumah, aku baru mulai kerja,” kata Sekar kepada CNNIndonesia.com.

Sekar sering menemui kesulitan saat hendak mulai bekerja, karena di saat yang sama sang anak mulai mengantuk. Lalu, pada tengah malam, anaknya juga kerap terbangun dan mesti ditidurkan kembali.

“Jam-jam tertentu dia kebangun, jadi harus nidurin lagi,” ucap Sekar.

Di siang hari, Sekar juga mesti membagi waktunya untuk bermain dengan anak dan beristirahat mempersiapkan diri untuk bekerja kembali di malam hari.

[Gambas:Video CNN]

(ptj/asr)





Sumber : cnnindonesia.com

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.