Pandemi Virus Corona Paksa Mahasiswa Belajar di Kamar

0 18


Pandemi virus corona terus meluas di Amerika. Ribuan kasus baru dikukuhkan setiap hari, terutama di negara-negara bagian yang paling parah terimbas seperti New York dan California.

Dalam upaya membendung perebakan yang terus meluas itu, warga disarankan bekerja dan belajar di rumah serta mengurangi kegiatan di luar rumah, terutama yang melibatkan kerumunan banyak orang. Simak laporan tentang suka-duka mahasiswa yang harus belajar di kamar tidur dan orang tua yang harus berperan sebagai guru untuk membantu anak belajar berikut.

Hingga Rabu (25/3), sedikitnya 60.000 warga Amerika dikukuhkan positif terjangkit virus corona. Angka itu diperkirakan akan semakin cepat melonjak jika warga tidak menjaga jarak secara fisik atau menjauhi segala bentuk pertemuan yang melibatkan banyak orang atau yang dikenal sebagai Social Distancing. Seiring dengan kebijakan itu puluhan ribu sekolah dan perguruan tinggi di Amerika ditutup dan melakukan kegiatan belajar-mengajar secara online.

Seperti di negara-negara bagian lain, di Virginia, di mana hingga Rabu terdapat sekitar 400 kasus virus corona, semua sekolah dan universitas juga ditutup dan kegiatan pembelajaran dilakukan dalam jaringan internet (daring) hingga akhir semester, yakni sekitar pertengahan Juni untuk TK hingga SMA, dan pertengahan Mei untuk perguruan tinggi.

Seorang profesor mengajar di ruangan yang kosong, sementara mahasiswanya mengikuti kuliahnya online selama pandemi corona.

Adinda Ningtyas adalah seorang mahasiswa jurusan teknik di University of Virginia di Charlottesville. Berbicara dengan VOA, Adinda mengatakan bahwa pandemi virus corona yang kini berlangsung telah membatalkan semua kegiatan kampus yang kini dinyatakan dalam keadaan lockdown atau dalam keadaan tutup. Sebagai gantinya, kegiatan belajar mengajar dilakukan secara daring.

Dia mengatakan bahwa keadaan demikian menuntut disiplin pribadi. Setiap hari Adinda harus mengikuti dua atau tiga mata kuliah yang disampaikan oleh profesor secara langsung melalui aplikasi Zoom atau rekaman video. Untuk menghindari gangguan, Adinda harus mengikuti kuliah dan belajar di kamar pribadi.

“Belajar di kamar tidak masalah, tapi harus disiplin. Belajar online lebih sulit karena kami harus mengerjakan semua sendiri. Kami bisa bertanya kalau ada kesulitan tapi tidak banyak membantu seperti kalau in person atau langsung di ruang kuliah,” tuturnya.

Banyak kuliah diadakan secara online dan mahasiswa belajar di rumah atau di kamarnya (foto: ilustrasi).

Banyak kuliah diadakan secara online dan mahasiswa belajar di rumah atau di kamarnya (foto: ilustrasi).

Adinda mengatakan pembelajaran daring memaksa siswa atau mahasiswa memiliki tanggung jawab pribadi yang tinggi untuk menonton video sendiri, dan mengikuti kuliah dengan serius. Dia menambahkan bahwa pertemuan melalui aplikasi Zoom, tetap tidak sejelas pertemuan langsung.

“Kalau pertemuan langsung bisa tanya langsung, juga ada teman-teman yang bisa membantu. Kalau mengerjakan tugas lab selalu bersama teman, berpasangan. Jadi saling membantu. Bagus begitu, tapi kalau kuliah dari kamar hanya bisa tanya teman dengan text message atau Facetime, dan Zoom,” imbuhnya.

Sementara itu, di Texas, hingga hari Rabu (25/3) virus corona secara positif menjangkiti sekitar 700 orang, tetapi seperti di Virginia dan negara-negara bagian lain, sekolah-sekolah di Texas juga tutup hingga akhir tahun ajaran ini, dan kegiatan belajar mengajar dilakukan secara online. Esther adalah seorang warga Indonesia dengan tiga anak usia sekolah yang bermukim di negara bagian itu.

Kepada VOA, dia mengatakan ketiga anaknya harus belajar di rumah dari hari Senin hingga Jumat setiap minggunya. Kegiatan pembelajaran berlangsung dari pukul 9 pagi sampai 1 siang. Untuk dapat mengikuti pelajaran, setiap anak harus memiliki laptop atau iPad sendiri-sendiri dengan sambungan Internet untuk mengakses bahan ajar di web sekolah, serta Schoology, Google Classroom, Edgenuity dan juga Zoom untuk video streaming.

“Memang semua belajar di rumah dan harus menggunakan laptop atau iPad sendiri-sendiri karena kelas anak-anak berbeda, dan situs web yang diakses juga berbeda. Orangtua bisa repot tapi masih bisa teratasi, berperan sebagai guru, mentor, dan kosnselor. Ya hitung-hitung ikut belajar lagi,” ujar Esther.

Menurut Esther, dinas pendidikan setempat juga mengirimkan paket berisi berbagai tugas yang harus dikerjakan setiap hari, terutama untuk para siswa kelas satu yang mungkin belum melek komputer. Namun, dengan bimbingan orang dewasa, mereka juga diberi akses ke website sekolah untuk belajar membaca, matematika, sains, sastra dan seni, dan ilmu sosial.

Baik Adinda Ningtyas maupun Esther mengatakan bahwa walaupun belajar secara online merepotkan, mereka setuju dengan anjuran dan arahan pihak berwajib demi suksesnya upaya membendung penyebaran virus corona. [lt/ab]



Sumber : voaindonesia.com

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.